/ Internal Medicine

Alur Diagnosis Klinis Pasien Dengan Keluhan Utama Pembengkakan Sendi

Kasus pembengkakan sendi menjadi masalah umum yang akan banyak dijumpai dokter dalam praktek sehari-hari. Kemampuan untuk menegakkan diagnosis klinis yang tepat akan menentukan ketepatan penatalaksanaan yang akan dipilih.

Hal yang pertama kali harus dipikirkan ketika menerima pasien dengan keluhan pembengkakan sendi adalah apakah pembengkakan terjadi berkaitan dengan proses trauma atau non-trauma. Jika berkaitan dengan proses trauma, maka pendekatan penatalaksanaan secara bedah menjadi lebih urgent. Namun, jika penyebab pembengkakan sendi tidak berkaitan dengan proses trauma, maka pasien dapat kita tatalakasana dengan pendekatan medik. Meskipun, masih dianjurkan untuk berkonsultasi ke Sp.OT jika didapatkan keraguan dalam prosesnya.

Gout, reumatoid artritis dan osteoartritis adalah tiga diagnosis yang umum dikeluhkan pasien ketika datang ke tempat praktek dokter. Namun, sebelum menduga ke arah diagnosis tersebut, pikirkanlah kemungkinan yang lebih membutuhkan penatalaksanaan khusus: artritis septik dan artritis reaktif.

Jika sudah menyingkirkan kemungkinan tersebut, maka silahkan berfikir tentang diagnosis yang lebih "populer": Gout, reumatoid artritis dan osteoartritis.

Artikel ini kami sarikan dari BUKU DIAGNOSIS KLINIS MACLEOD, dengan beberapa pengayaan. Diagram yang dapat sejawat temukan di Buku Tersebut akan sangat membantu untuk memahami alur pikir bagaimana menegakkan diagnosis klinis pasien dengan keluhan utama pembengkakan sendi.

1. Ada Riwayat Trauma Bermakna atau Sendi Protase?

Lakukan pemeriksaan foto polos rontgen bila pasien mempunyai riwayat trauma yang baru saja terjadi.

Curigai kemungkinan hemartrosis bila pembengkakan sendi berat terjadi dalam 30-60 menit setelah trauma atau terjadi pada pasien dengan gangguan koagulasi. Aspirasi hemartrosis traumatik yang nyeri dapat membantu meringankan nyeri. Lakukan konsul dengan ortopedi (Sp.OT) dan perbaiki setiap kelainan koagulasi sebelum melakukan aspirasi.

Pada pasien dengan sendi protase yang membengkak/nyeri, lakukan pemeriksa-an foto rontgen dan konsul ke ahli ortopedi (Sp.OT). Jangan melakukan aspirasi pada protase sendi tanpa berkonsultasi dengan ahli ortopedi karena berisiko menimbulkan infeksi.

Bila tidak terdapat kelainan koagulasi, pembengkakan yang terjadi dalam waktu 24 jam atau lebih setelah trauma sendi kemungkinan menunjukkan adanya efusi traumatik.

2. Ada Indikasi untuk Melakukan Aspirasi Sendi?

Lakukan aspirasi sendi (menggunakan teknik asepsis yang ketat) dengan pewarnaan Gram segera dan pemeriksaan mikroskopik, diikuti dengan pemeriksaan kultur dan sensitivitas untuk setiap pasien yang mengalami pembengkakan sendi akut yang terasa nyeri, hangat dan tanpa riwayat trauma.

Aspirasi lutut realtif sederhana,tetapi sendi lainnya, khususnya sendi panggul dan pergelangan kaki membutuhkan teknik khusus dari para ahli. Mintalah bantuan dari subspesialis rematologi (Sp.PD-KR) atau ahli ortopedi (Sp.OT). Jangan pernah melakukan aspirasi bila jaringan secara klinis mengalami infeksi.

Ambil darah untuk pemeriksaan darah lengkap, CRP dan kultur darah. Namun perhatikan bahwa hitung leukosit pada pemeriksaan darah perifer dan kadar CRP yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan artristik septik.

Aspirasi sendi yang menunjukkan mikroorganisme pada pewarnaan Gram merupakan petunjuk diagnostik untuk** artritis septik**, tetapi hanya positif dan pada 30-50% kasus.

Leukosit yang meningkat pada aspirasi sendi menunjukkan kemungkinan infeksi, meskipun bila pewarnaan Gram gagal menunjukkan mikroorganismenya. Mintalah saran dari para ahli.

Jika ditemukan kristal monosodium urat (gout) atau kalsium pirofosfat dihidrat (psudogout) pada pemeriksaan mikroskopik maka hal ini menunjukkan kemungkinan artropati yang diinduksi oleh kristal (crystal-induced arthropathy), tetapi tidak menyingkirkan kemungkinan super infeksi.

Bila tidak ditemukan kristal atau tidak ditemukan hasil positif pada pemeriksaan gram, mintalah konsul ke ahli ortopedi (Sp.OT) bila terdapat kecurigaan yang berlanjut akan adanya artritis septik, misalnya gambaran klinis yang khas, peningkatan leukosit pada aspirasi atau pasien dengan kekebalan tubuh menurun (imunokompromais).

3. Apakah Ada Infeksi Saluran Cerna/Saluran Kemih yang baru terjadi atau bukti adanya Uretritis Konjungtivitis?

Jika kemungkinan artritis septik telah disingkirkan, adanya salah satu dari hal berikut ini menunjukkan kemungkinan besar ke arah artritis reaktif:

  1. Diare
  2. Sering kencing/frekuensi urin meingkat
  3. Disuria atau urgensi
  4. Keluarnya cairan dari uretra dalam waktu 6 bulan sebelumnya (biasanya 1-3 minggu)
  5. Ulserasi pada alat kelamin atau balanitis sirsinata
  6. Gejala/tanda konjungtivitis atau iritis, misalnya nyeri, iritasi, keluarnya air mata, keluarnya cairan atau mata merah.

Rujuk ke Sp.PD-KR atau Sp.OT bila didapatkan kecurigaan yang mengarah ke sana.

4. Apakah Ada Bukti Keterlibatan Sendi Lainnya?

Periksalah semua sendi dengan seksama, carilah bukti adanya pembengkakan dan/atau rasa nyeri. Perhatikan distribusi dan simetri keterlibatan sendi tambahan.

Perbedaan Gout dan Reumatoid Artritis dapat dilihat pada video dibawah ini.

Kriteria Diagnosis Rheumatoid Artritis berdasarkan kriteria ACR 2010 dapat sejawat baca dalam tabel dibawah ini.


Pertimbangkan artritis seronegatif bila tedapat keterlibatan aksial yang nyata/sakroilitis atau riwayat/gambaran klinis penyakit radang saluran cerna (inflammatory bowel disease) atau pioriasis. Kecuali bila diagnosis telah jelas menunjukkan osteoartritis, rujuklah untuk mendapatkan penilaian dari dokter spesialis reumatologi (Sp.PD-KR).

5. Pertimbangkan Penyebab Lainnya

Mintalah pemeriksaan USG untuk mendeteksi/menilai efusi pada sendi panggul dan bahu serta kondisi di sekitar sendi (periartikular): tendinopati, bursitis, hematoma otot.

Selalu pertimbangkan adanya hemartorsis spontan pada pasien dengan koagulopati (termasuk pasien yang sedang dalam pengobatan antikoagulasi).

Evaluasi untuk kemungkinan demam rheuma bila terdapat artritis yang berpindah-pindah dari sendi satu ke sendi lainnya (flitting arthritis) yang berkaitan dengan gambaran yang khas lainnya. Carilah saran dari ahli reumatologi bila Anda mencurigai gambaran monoartikular artritis reumatoid, osteoartritis atau artritis seronegatif.

Semoga bermanfaat^^


=
Sponsored Content

300.000 Lebih Dokter di Dunia telah membaca edisi Internasional Buku Diagnosis Klinis Macleod. Mengapa?

Tahukah sejawat, 90% diagnosis klinis sudah dapat ditegakkan dengan anamnesis yang baik. Pemeriksaan fisik yang terarah akan semakin mengkonfirmasi diagnosis yang dibuat.

Buku Diagnosis Klinis MacLeod-PAPDI (yang disunting Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD, K-HOM, FINASIM, FACP) adalah buku yang memiliki kerangka konsep yang unik dan praktis.

Buku ini mencoba menjawab tantangan kedokteran berbasis Problem Based Learning yakni manajemen kasus klinik berbasi pemecahan masalah.

Menyajikan 25 keluhan utama (Nyeri Dada, Sakit Kepala sampai Masalah Kulit) yang paling sering membawa pasien ke praktek dokter (klinik rawat jalan dan Instalasi Gawat Darurat), buku ini menyajikan algoritma klinis yang praktis diaplikasikan oleh dokter umum.

Kabar baiknya, BUKU DIAGNOSIS KLINIS MACLEOD bisa sejawat pesan via Dokter Post.

Harganya 399 ribu rupiah. Berisi 300 halaman full color, dengan kertas Lux. Kualitas cetak premium membuat dokter akan belajar puluhan diagram dan gambar yang disajikan didalamnya lebih mudah. Cara Pemesanannya mudah sekali, langsung saja SMS/WA ke 081234008737

Buruan, limited Stock!!!