Advis dr Ardsari SpKK untuk Dermatitis Atopi dengan Infeksi Sekunder

"Selamat pagi, dok. Ijin konsul. Anak 12 th. Keluhan awal bintik kecil gatal lama2 melebar dalam 3 hari. Tidak terlalu gatal, tidak nyeri. Sudah diberikan apolar dan cream tidak ada perkembangan."

"Dari gambar, diagnosa saya dermatitis atopik dan infeksi sekunder, namun perlu dikonfirmasi lagi diagnosisnya agar lebih tajam.

Terapi :

  • amoxicillin 3x500 atau eritromisin 4x500 selama 5-7 hari
  • natrium fusidat 2.5% cream
  • Edukasi mandi : wajib pakai sabun bayi cair dan dengan air biasa (jangan air panas)
  • stop oles-oles bahan lain, rendam air panas
  • kalo ada lesi (erosi) udah membaik bisa diberi urea 10% cream setelah mandi, dan topikal steroid bila perlu"

"Baik, Terima Kasih Banyak, dok."

Diagnosis dan Terapi Dermatitis Atopik dengan Infeksi Sekunder

Dermatitis atopik adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gejala gatal. Penyakit ini adalah salah satu dari 155 penyakit yang harus dikuasai dokter umum di PPK 1, termasuk level kompetensi 4A menurut SKDI 2012.

Keluhan Utama yang sering dikeluhkan adalah pruritus (gatal) yang dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan sering menggaruk, dan dokter dapat menemukan bekas garukan.

Faktor Risiko Dermatitis Atopik adalah

  1. Wanita lebih banyak menderita Dermatitis Atopik dibandingkan pria (rasio 1.3 : 1).
  2. Riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis alergi/vernalis, asma bronkial, dermatitis atopik, dll).
  3. Faktor lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik.
  4. Riwayat sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.

Faktor pemicu Dermatitis Atopik diantaranya adalah

  1. Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah.
  2. Tungau debu rumah
  3. Sering mengalami infeksi di saluran napas atas (kolonisasi Staphylococus aureus)

Diagnosis Klinis Dermatitis Atopik

Diagnosis klinis dermatitis atopik ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Setidaknya harus memenuhi 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini.

Kriteria Mayor:

  1. Pruritus
  2. Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
  3. Dermatitis di fleksura pada dewasa
  4. Dermatitis kronis atau berulang
  5. Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

Kriteria minor:

  1. Xerosis.

  2. Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes simpleks).

  3. Iktiosis/ hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris.

  4. Pitriasis alba.

  5. Dermatitis di papilla mamae.

  6. White dermogrhapism dan delayed blanch response.

  7. Kelilitis.

  8. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan.

  9. Konjunctivitis berulang.

  10. Keratokonus.

  11. Katarak subskapsular anterior.

  12. Orbita menjadi gelap.

  13. Muka pucat atau eritem.

  14. Gatal bila berkeringat.

  15. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak.

  16. Aksentuasi perifolikular.

  17. Hipersensitif terhadap makanan.

  18. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan atau emosi.

  19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif.

  20. Kadar IgE dalam serum meningkat.

  21. Mulai muncul pada usia dini.

    Pada bayi, kriteria Diagnosis dimodifikasi menjadi:
    3 kriteria mayor berupa:

  22. Riwayat atopi pada keluarga.

  23. Dermatitis pada muka dan ekstensor.

  24. Pruritus.

ditambah 3 kriteria minor berupa:

  1. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris, aksentuasi perifolikular.
  2. Fisura di belakang telinga.
  3. Skuama di scalp kronis.

Terapi Dermatitis Atopik di PPK 1

Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu:

  1. Menemukan faktor risiko
  2. Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian sepert wol atau bahan sintetik
  3. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab
  4. Menjaga kebersihan bahan pakaian
  5. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan
  6. Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama
  7. Menghindari stress psikis
  8. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor
  9. Pada bayi, menjaga kebersihan di daerah popok, iritasi oleh kencing atau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan medicated baby oil
  10. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi

Terapi farmakolgik dermatitis atopik di PPK 1 dapat diberikan

Topikal (2x sehari)

  1. Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid topikal, seperti: Desonid krim 0.05% atau Fluosinolon asetonid krim 0.025%) selama maksimal 2 minggu.
  2. Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan Betametason valerat krim 0.1% atau Mometason furoat krim 0.1%).
  3. Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.

Oral Sistemik

  1. Antihistamin sedatif yaitu: CTM 3x4 mg selama maksimal 2 minggu, atau
  2. Loratadine 1x10 mg/hari atau antihistamin non-sedatif lainnya selama maksimal 2 minggu

Contoh Resep

R/ Cr. Betametason valerat 0,1% tb. No I
S 2 dd, u.e.
R/ Tab Loratadin 10mg no X
S 1 dd tab I

Kriteria Rujukan

  1. Dermatitis atopik luas, dan berat
  2. Dermatitis atopik rekalsitran atau dependent steroid
  3. Bila diperlukan skin prick test/tes uji tusuk
  4. Bila gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4 minggu
  5. Bila kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Kasus kulit sering sulit. Buktinya, kasus kulit adalah kasus no. 2 (setelah Bacaan EKG) yang paling banyak didiskusikan di Group Diskusi Kasus Klinis DokterPost.com

dr-ardsari-SpKK

Group Konsul Kulit dr Ardsari, SpKK dapat menjadi solusi yang bagus buat kamu dalam mengambil keputusan klinis dan memberian terapi terbaik buat pasien di praktek sehari-hari

Daftar Sekarang (WA) Bu Santi LiteBig (0856 0808 3342)